HATI-HATI


     Dalam pembahasan kali ini kita akan mempelajari seputar kegagalan konstruksi yang kian marak akhir-akhir ini, mengapa bisa demikian ? Ups.. sebelum membahas faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan suatu konstruksi, kita harus tahu dulu kegagalan konstruksi. Kegagalan konstruksi dapat diartikan secara umum yaitu runtuhnya suatu bangunan karena struktur utama bangunan tidak kuat dalam meneruskan beban-beban yang bekerja diatasnya karena besarnya gaya yang ditimbulkan, beban-beban tersebut melampaui batas yang diizinkan dalam perancangan awal dari suatu konstruksi bangunan.

    Lalu apakah hal tersebut adalah murni kesalahan dari konsultan perencana ?..jawabannya BISA JADI, mengapa demikian, karena bisa jadi si konsultan perencana terdapat kesalahan dalam menginput ataupun menghitung pembebanan yang terjadi atau bahkan sang owner sebagai pemilik bangunan sama sekali tidak menggunakan jasa konsultan perencana, sehingga tidak diperhitungkan kekuatan struktur utamanya dalam meneruskan gaya yang terjadi akibat penambahan beban-beban yang bekerja dalam bangunan tersebut.

  Apakah hanya konsultan perencana yang menjadi penyebab utama dalam kegagalan bangunan ?..jawabannya Belum Tentu, karena penyebab kegagalan bangunan dapat terjadi oleh banyak hal, Seperti yang dijelaskan Dr. Ir. James Thoengsal, M.T., IPM. dalam artikelnya diantaranya :

  1.    Kesalahan perencanaan dan perancangan merupakan faktor yang sangat penting dan vital dimana sangat berpengaruh terhadap desain konstruksi yang akan dilaksanakan dilapangan, jika dalam aspek perencanaan dan perancangan pihak konsultan salah memperhitungkan atau menganalisis maka konsekuensi dan dampak yang dapat ditimbulkan ke depan akan sangat signifikan berpengaruh terhadap kegagalan fisik bangunan. Perencanaan dalam hal ini dapat berupa perencanaan dan perancangan desain fisik/ukuran dan keamanan, perencanaan anggaran, perencanaan mutu, perencanaan waktu pelaksanaan,  perencanaan manfaat/benefit, perencanaan fungsi dan perencanaan yang mendukung terhadap produk konstruksi yang akan dihasilkan. 
  2.    Kesalahan pelaksanaan merupakan tindak lanjut dari proses perencanaan kontruksi, dimana dalam tahap pelaksanaan juga memegang peranan penting terhadap kegagalan kontruksi yang tentunya lebih berorientasi kepada  pihak pelaksana proyek/kontraktor. Dalam tahap pelaksanaan faktor-faktor tersebut antara lain dapat dari segi metode pelaksanaan yang salah, kualitas material yang tidak sesuai spesifikasi dalam kontrak dan perencanaan, penggunaan tenaga kerja yang tidak ahli/berpengalaman, penggunaan peralatan yang tidak efektif, kurangnya pengawasan dan manajemen proyek yang buruk.  Tentunya jika aspek tersebut dapat lebih diperhatikan maka tingkat risiko kegagalan konstruksi dari aspek pelaksanaan dapat direduksi. 
  3.    Dalam hal ini lebih berorientasi kepada  pihak pemilik proyek konstruksi dalam tahap penggunaan dan operasional dari produk konstruksi tersebut, dimana jika pihak pemilik melakukan kesalahan dalam hal merubah dari fungsi awalnya maka dapat berpotensi menimbulkan terjadinya kegagalan konstruksi, misalnya bangunan yang awalnya diperuntukkan untuk gedung perkantoran diubah fungsi menjadi gudang atau menambah jumlah tingkat bangunan yang dari perencanaan awalnya hanya diperuntukkan untuk satu lantai atau pembangunan gedung yang setelah terealisasi tidak digunakan sama sekali/ganggur,  serta perubahan-perubahan fungsi lainnya yang menyimpang dari fungsi rencana awalnya juga berpotensi terhadap terjadinya kegagalan bangunan baik bersifat fisik maupun nonfisik. 
  4.    Perawatan bangunan juga berperan penting terhadap kelangsungan umur dan kualitas produk konstruksi, tentunya dalam hal ini diperluhkan sistem manajemen perawatan bangunan. Jika tingkat frekuensi perawatan tidak dilakukan secara rutin dan berkala maka dapat juga berpotensi terhadap meningkatnya risiko kegagalan bangunan. Inspeksi perawatan bangunan berfungsi untuk mendeteksi secara dini kerusakan dari fisik bangunan/infrastruktur sehingga langkah repair/perbaikan dapat dilakukan sejak dini sehingga menghindari tingkat kerusakan yang lebih buruk serta pembengkakan biaya.
  5.    Umur bangunan juga berperan dan berpengaruh terhadap kegagalan konstruksi bangunan dimana jika umur suatu produk bangunan melampaui dari umur yang direncanakan maka dapat berpotensi menyebabkan kegagalan bangunan, hal ini diakibatkan karena tingkat kekuatan bangunan mengalami penurunan selama umurnya serta kelelahan/fatique yang terus-menerus selama umur bangunan tersebut. 
  6.    Bencana Alam, faktor ini merupakan faktor diluar dugaan dan kemampuan manusia yang sulit untuk diprediksi secara tepat (Act of God), faktor bencana merupakan faktor yang sangat fatal terhadap kegagalan konstruksi. Bencana dalam hal ini dapat berupa bencana alam maupun akibat faktor internal/kelalaian manusia seperti bencana gempa/Earth Quakeflood/banjir, Tsunami, tanah longsor/land slide, Topan, kebakaran, ledakan, Amblas, dsb. Oleh karena itu untuk mengurangi tingkat risiko akibat faktor ini maka banyak pihak pemilik produk konstruksi mengalihkan risiko tersebut ke pihak ke-3 seperti asuransi. 
Jadi kegagalan konstruksi tidak dapat dihilangkan karena banyak faktor yang menyebabkannya, namun dengan memilih konsultan perencana yang baik setidaknya dapat meminimalisir kemungkinan kegagalan yang terjadi, sehingga konsultan perencana akan memberikan pertimbangan-pertimbangan teknis yang diperlukan owner dalam mendirikan sebuah bangunan gedung, bila Bapak/Ibu akan mendirikan bangunan gedung jangan sungkan dapat ditanyakan kepada kami https://www.harsayakarya.com/ konsultan perencana yang dapat membimbing dalam mendirikan sebuah bangunan gedung Bapak/Ibu, sehingga suatu saat nanti ketika akan mengurus perizinannya seperti penerbitan Sertifikat Laik Fungsi ( SLF ) ataupun PBG tidak akan mengalami kesulitan, karena bangunan tidak sesuai dengan persyaratan yang diatur dalam undang-undang.

Komentar